Selasa, 29 November 2011

LEADERSHIP


KEPEMIMPINAN

Dosen Pembimbing: Ns. Andriyani Mustika, S.Kep dan TIM




KELOMPOK 6

1.      Nining Setyowati                    (SK.109.122)
2.      Norma Farisda                       (SK.109.123)
3.      Nur Maulidda                        (SK.109.136)
4.      Nur Renna Rahmawati         (SK.109.137)
5.      Pungkas                                 (SK.109.148)
6.      Purwanto                                (SK.109.149)
7.      Ratna Yulia Sari                    (SK.109.155)


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES KENDAL
TAHUN AKADEMIK 2010-2011




BAB I

 PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
Manajemen merupakan suatu proses dalam menyelesaikan pekerjaan pada orang lain. Pada dasarnya manajemen secara umum tidak jauh berbeda pada manajemen keperawatan yang berfokus pada perilaku manusia. Untuk mencapai pelayanan keperawatan yang prima dibutuhkan manajer yang yang terdidik dan keterampilan yang tinggi.
Manajemen keperawatan adalah suatu proses dalam menyelesaikan pekerjaan melalui anggota staff keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional.
Kepemimpinan dalam keperawatan merupakan penerapan pengaruh dan bimbingan yang ditujukan kepada semua staf keperawatan untuk menciptakan kepercayaan dan ketaatan sehingga timbul kesediaan melaksanakan tugas dalam rangka mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien.
Untuk dapat melakukan hal tersebut di atas, baik atasan maupun bawahan perlu memahami tentang pengelolaan kepemimpinan secara baik, yang pada akhirnya akan terbentuk motivasi dan sikap kepemimpinan yang profesional.

  1. Tujuan Penulisan
Memeberikan gambaran tentang leadership dalam kepemimpinan untuk menunjang pelayanan kesehatan yang paripurna.




BAB II
PEMBAHASAN

  • Kasus

Perawat gery setiap hari selalu datang terlambat dan suka membolos, perawat caca kerjanya selalu bersolek dan tidak mau menyentuh pasien, hal ini yang menjadikan kondisi bangsal rapi tidak nyaman karena tidak ada koordinasi yang baik pimpinan, dari kepala ruang selalu tidak ada di ruangan sementara ketua TIM sibuk dengan agenda ruangan. Selesaikan konsep  lidership yang dapat di terapkan di bangsal rapi.
A.     Identifikasi masalah

  1.      .  Perawat Gery setiap hari selalu datang terlambat dan membolos
  2.      .  Perawat Caca kerjanya selalu bersolek dan tidak mau menyentuh pasien-9
  3.      .  Tidak ada koordinasi yang baik dari pimpinan
  4.       .  Kepala Ruang selalu tidak ada di ruangan
  5.       .  Ketua TIM sibuk dengan agenda ruangan

B.     Landasan teori
1.      Pengertian kepemimpinan
2.      Teori – teori kepemimpinan
3.      Gaya kepemimpinan
4.      Peran pemimpin
5.      Kriteria pemimpin yang baik
6.      Peran dan fungsi kepala rung sebagi pemimpin


C.  PENYELESAIAN KASUS
Hubungan kerja diantara perawat dan personil lain, pasien dan keluarga dapat menimbulkan potensial konflik. Dalam hal ini manajer perawat harus menguasai bagaimana mengelola konflik. Penyebab-penyebab konflik termasuk prilaku menentang, stress, ruangan yang penuh sesak, kewenangan dokter, serta ketidak cocokan nilai dan sasaran.
Konflik dapat dicegah atau diatasi dengan disiplin, mempertimbangkan tahap kehidupan, komunikasi termasuk mendengarkan secara aktif, penggunaan lingkaran kualitas dan ketetapan tentang latihan asertif bagi manajer perawat.
Manajemen konflik menjaga meluasnya konflik, membuat kerja lebih produktif, dan dapat membuat konflik sebagai kekuatan yang positif dan membangun. (Swanbrug, Russe, C. 2000)


D. KONSEP DASAR LEADERSHIP

Ø                PENGERTIAN
Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk  mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
Pemimpin adalah inti dari manajemen. Ini berarti bahwa manajemen akan tercapai tujuannya  jika ada pemimpin. Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan-alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama (Panji Anogara, hal: 23).

Ø      TEORI KEPEMIMPINAN
Memahami teori-teori kepemimpinan sangat besar artinya untuk mengkaji sejauh mana kepemimpinan dalam suatu organisasi telah dapat dilaksanakan secara efektif serta menunjang kepada produktifitas organisasi secara keseluruhan. Dalam karya tulis ini akan dibahas tentang teori dan gaya kepemimpinan.
Seorang pemimpin harus mengerti tentang teori kepemimpinan agar nantinya mempunyai referensi dalam menjalankan sebuah organisasi. Beberapa teori tentang kepemimpinan antara lain :
a)      Teori Kepemimpinan Sifat (Trait Theory)
                     Analisis ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan ”The Greatma Theory”. Dalam perkembanganya, teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik, mental, dan kepribadian.
Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, antara lain :
1.      Kecerdasan
Berdasarkan hasil penelitian, pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya.
2.      Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial
Umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal, seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya.
3.      Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi
Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal, efektif dan efisien.
4.      Sikap Hubungan Kemanusiaan
Adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya

b)      Teori Kepemimpinan Perilaku dan Situasi
Berdasarkan penelitian, perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki kecendrungan kearah 2 hal.
1.      Pertama yang disebut dengan Konsiderasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala yang ada dalam hal ini seperti : membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia berkonsultasi dengan bawahan.
2.      Kedua disebut Struktur Inisiasi yaitu Kecendrungan seorang pemimpin yang memberikan batasan kepada bawahan. Contoh yang dapat dilihat , bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan dicapai.
Jadi, berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan terhadap hasil yang tinggi pula.
c)      Teori Kewibawaan Pemimpin
Kewibawaan merupakan faktor penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain baik secara perorangan maupun kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.

d)      Teori Kepemimpinan Situasi
Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.

e)      Teori Kelompok
Agar tujuan kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dengan pengikutnya.

  • Ø   GAYA KEPEMIMPINAN

Gaya kepemimpinan adalah pola tingkah laku yang dirancang untuk mengintegrasikan tujuan organisasi dengan tujuan individu untuk mencapai suatu tujuan.
 Ada empat macam gaya kepemimpinan yang telah dikenal yaitu otokratis, demokratis, partisipatif dan laissez faire (Gillies, 1996).
    1. Otokrasi
Gaya kepemimpinan otokratis adalah gaya kepemimpinan yang menggunakan kekuatan jabatan dan kekuatan pribadi secara otoriter, melakukan sendiri semua perencanaan tujuan dan pembuatan keputusan dan memotivasi bawahan dengan cara paksaan, sanjungan, kesalahan dan penghargaan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
    1. Demokratis
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya seorang pemimpin yang menghargai karakteristik dan kemampuan yang dimiliki oleh setiap anggota organisasi. Pemimpin yang demokratis menggunakan kekuatan jabatan dan kekuatan pribadi untuk menggali dan mengolah gagasan bawahan dan memotivasi mereka untuk mencapai tujuan bersama.
    1. Partisipatif
Gaya kepemimpinan partisipatif adalah gabungan bersama antara gaya kepemimpinan otoriter dan demokratis dengan cara mengajukan masalah dan mengusulkan tindakan pemecahannya kemudian mengundang kritikan, usul dan saran bawahan. Dengan mempertimbangkan masukan tersebut, pimpinan selanjutnya menetapkan keputusan final tentang apa yang harus dilakukan bawahannya untuk memecahkan masalah yang ada.
    1. Laissez faire
Gaya kepemimpinan laisses faire dapat diartikan sebagai gaya “membiarkan” bawahan melakukan sendiri apa yang ingin dilakukannya. Dalam hal ini, pemimpin melepaskan tanggung jawabnya, meninggalkan bawahan tanpa arah, supervisi atau koordinasi sehingga terpaksa mereka merencanakan, melakukan dan menilai pekerjaan yang menurut mereka tepat.
Dalam keempat gaya kepemimpinan di atas memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Setiap gaya kepemimpinan bisa efektif dalam situasi tertentu tetapi tidak efektif dalam situasi lainya.
Faktor yang menetukan efektifitas gaya kepemimpinan secara situasional meliputi: kesulitan atau kompleksitas tugas yang diberikan, waktu yang tersedia untuk menyelesaikan tugas, ukuran unit organisasi, pola komunikasi dalam organisasi, latar belakang pendidikan dan pengalaman pegawai, kebutuhan pegawai dan kepribadian pemimpin (Gillies, 1996).

Ø      PENDEKATAN KEPEMIMPINAN
Secara umum, kita mengenal 3 pendekatan, yaitu kepemimpinan untuk memimpin suatu unit organisasi, yaitu pendekatan berdasarkan sifat (traits theory), pendekata berdasarkan perilaku kepemimpinan (behavior theory), dan pendekatan berdasarkan situasi (contingency theory).
1.      Berdasarkan sifat
Pendekatan kepemimpinan berdasarkan sifat seseorang dapat dilakukan dengan cara :
§         Membandingkan sifat – sifat dari mereka yang menjadi pemimpin dan mereka yang bukan pemimpin.
§         Membandingkan sifat – sifat dari pemimpin yang efektif dan pemimpin yang tidak efektif.
Sifat – sifat pemimpin yang diharapkan dari pendekatan ini antara lain:
                               a.      Selalu antusias
                              b.      Mengenal dirinya sendiri
                               c.      Waspada
                              d.      Mempunyai rasa percaya diri yang kuat
                               e.      Merasa bertanggung jawab
                                f.      Mempunyai rasa humor
2.      Berdasarkan perilaku
Intisari dari pendekatan kepemimpinan berdasarkan perilaku seperti di bawah ini :
a.       Teori ini menjelaskan perilaku pemimpin yang membuat seseorang menjadi pemimpin yang efektif.
b.      Pemimpin yang efektif ialah pemimpin yang menggunakan cara – cara yang dapat mewujudkan sasarannya. Misalnya, dengan mendelegasikan tugas, mengadakan komunikasi yang efektif, motivasi bawahannya, dan melaksanakan control.
3.      Berdasarkan situasi
Pendekatan ini membahas hubungan antara pemimpin dan situasi. Terdapat 3 variabel situasional yang dapat membantu gaya kepemimpinan yang efektif, yaitu :
a.       Hubungan atasan dengan bawahan
b.      Struktur tugas yang harus dikerjakan
c.       Posisi kewenangan seseorang
Pendekatan berdasarkan situasi dapat dimanifestasikan sebagai berikut:
a.       Dapat memberi perintah yang akan dilaksanakan
b.      Menggunakan  saluran yang sudah ditetapkan
c.       Menaati peraturan
d.      Disiplin
e.       Mendengarkan  informasi dari bawahan
f.        Tanggap terhadap situasi
g.       Membantu bawahan (Suarli, S. 2002)
  • Ø      PERAN PEMIMPIN

a.       Menetukan tujuan pelaksanaan kerja yang realitis, dalam artian kuantitas, kualitas, dan keamanan.
b.      Melengkapi para karyawan atau pegawai dengan sumber – sumber dana yang di perlukan untuk menjalankan tugasnya.
c.       Mengomunikasikan kepada para karyawan tentang apa yang di harapkan dari mereka.
d.      Memberikan reward / intensif yang sepadan untuk mendorong prestasi
e.       Mendeklerasikan wewenang apabila di perlakukan dan mengundang partisipasi apabila memungkinkan (Suarli, S. 2002)

  • Ø      KRITERIA PEMIMPIN YANG BAIK

Kriteria menjadi seorang pemimpin salah satunya adalah seorang pemimpin harus mampu untuk memimpin pegawai (perawat) untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna dan harus mampu menjembatani antara tenaga kesehatan dengan klien. Pemimpin yang berkualitas harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1.      Mempunyai keinginan untuk menerima tanggung jawab
2.      Mempunyai kemampuan untuk persepsi introspektif
3.      Mempunyai kemampuan untuk menentukan prioritas
4.      Mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi (Suarli. S. 2002)

  • Ø      PERAN DAN FUNGSI KEPALA RUANG SEBAGAI PEMIMPIN

Kepala ruangan adalah seorang tenaga perawatan professional yang diberi tanggung jawab dan wewenang dalam mengelola kegiatan pelayanan keperawatan disatu ruang rawat atau klinik
a.       Persyaratan Kepala Ruangan
Merujuk dari pedoman uraian tugas tenaga perawatan di RS (depkes, 1994) persyaratan kepala ruangan adalah : Pendidikan minimal sarjana muda atau lulusan DIII Keperawatan Memiliki pengalaman sebagai pelaksana perawatan 2-3 tahun. Memiliki sertifikat kursus manajemen keperawatan Memiliki kemampuan kepemimpinan Berwibawa Sehat
b.      Tanggung jawab Kepala Ruang
Secara administrasi dan fungsional bertanggung jawab kepada kepala bidang perawatan melalui kepala seksi perawatan. Secara teknis medis operasional, bertanggung jawab kepada dokter penanggung jawab/ dokter yang berwenang/ kepala UPF
c.       Tugas pokok Kepala Ruangan
Mengawasi dan mengendalikan kegiatan pelayanan keperawatan diruang rawat/ klinik yang berada di wilayah tanggung jawabnya.
d.      Fungsi Kepala Ruangan
Menentukan standart pelaksanaan kerja. Memberi pengarahan ketua tim Supervisi dan evaluasi tugas staf
e.       Uraian Tugas :
1.    Perencanaan :
·        Menunjuk ketua tim yang bertugas diruangan masing-masing.
·        Mengikuti serah terima klien dari shift sebelumnya.
·        Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien : gawat, transisi dan persiapan pulang bersama ketua tim.
·        Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktifitas dan kebutuhan klien bersama ketua tim, mengatur penugasan dan penjadualan.
·        Merencanakan jumlah dan jenis peralatan keperawatan yang diperlukan sesuai kebutuhan.
·        Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan.
·        Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiologi, tindakan medis yang dilakukan, program pengobatan dan mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap klien.
·        Mengatur dan mengendalikan Asuhan keperawatan : Membantu pengembangan staf : pendidikan dan latihan dll
·        Merencanakan bimbingan terhadap peserta didik keperawatan
2.    Pengorganisasian :
Ø      Merumuskan metode/ sistim penugasan yang digunakan.
Ø      Merumuskan tujuan sistim/ metoda
Ø      Membuat rincian tugas ketua tim dan anggota tim secara jelas
Ø      Membuat rentang kendali : kepala ruangan membawahi 2 ketua tim dan ketua tim membawahi 2-3 perawat
Ø      Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan : membuat roster dinas, mengatur tenaga yang ada setiap hari dll
Ø      Mengaturr dan mengendalikan situasi lahan praktik
Ø      Mendelegasikan tugas saat kepala ruang tidak berada ditempat kepada ketua tim
Ø      Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus administrasi klien
Ø      Mengatur penugasan, jadwal pos dan pekarya
Ø      Mengidentifikasi masalah dan cara penanganan
3.    Pengarahan :
Ø      Memberi pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim
Ø      Memberi pujian kepada anggota tim yang melaksanakan tugas dengan baik
Ø      Memberi motivasi dalam meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap
Ø      Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan dengan asuhan keperawatan klien
Ø      Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan
Ø      Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya
Ø      Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain 
4.    Pengawasan :
Ø      Melalui komunikasi : mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua tim maupun pelaksana mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien
Ø      Melalui supervisi : Mengawasi peserta didik dari institusi pendidikan untuk memperoleh pengalaman belajar sesuai tujuan program pendidikan yang telah ditentukan oleh institusi pendidikan
Ø      Evaluasi : mengevaluasi upaya/ kerja pelaksana dan membandingkan dengan rencana keperawatan yang telah disusun bersama ketua tim
Ø      Melaksanakan penilaian terhadap upaya peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dibidang perawatan
Ø      Melaksanakan penilaian dan mencantumkannya kedalam daftar penilaian pelaksanaan pekerjaan pegawai (DP3), bagi pelaksana perawatan dan tenaga lain diruang rawat/ klinik yang berada dibawah tanggung jawabnya, untuk berbagai kepentingan (kenaikan pangkat/ golongan dan melanjutkan pendidikan)
Ø      Mengawasi dan mengendalikan pendayagunaan peralatan perawatan serta obat-obatan secara efektif dan efisien
Ø      Mengawasi pelaksanaan sistim pencatatan dan pelaporan kegiatan asuhan keperawatan serta mencatat kegiatan lain diruang rawat/ klinik.


BAB III
PENUTUP

  1. Simpulan
Kepemimpinan  merupakan penggunaan ketrampilan seorang pemimpin (perawat) dalam mempengaruhi perawat-perawat lain yang berada di bawah pengawasannya untuk pembagian tugas dan tanggung jawab dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan sehingga tujuan keperawatan tercapai
Seorang pemimpin keperawatan tidak akan berhasil melakukan fungsinya apabila tidak memiliki kemampuan mengatur waktu, mengendalikan stress baik yang dialaminya maupun orang lain (bawahan), dan juga mengatasi konflik yang terjadi baik internal maupun eksternal, baik individual, maupun kelompok (managing time, stress, and conflict). Kepemimpinan dalam keperawatan memerlukan seseorang yang memiliki kriteria ini.

  1. Saran
Kriteria menjadi seorang pemimpin salah satunya adalah seorang pemimpin harus mampu untuk memimpin pegawai (perawat) untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna. dan harus memperhatikan tentang pembagian kerja, pendelegasian tugas, koordinasi,dan manajemen waktu.  





DAFTAR PUSTAKA

Suarli, S, Bachtiar, Yayan. 2002. Manajemen Keperawatankatan Dengan Pendekatan Praktik. Jakarta : Erlangga.
Kuncoro, Agus. 2010. Buku Ajar Manajemen Keperawatan. Yogyakarta : Numed Swanburg Swanbrug, Russel C. 2000. Kepemimpinan & Manajemen Keperawatan. Jakarta. EGC
Brown, Montague. 1997. Manajemen Perawatan Kesehatan. Jakarta : EGC

Senin, 28 November 2011

Manajemen Keperawatan


KONSEP DASAR
MANAJEMEN KEPERAWATAN

Dosen Pembimbing: Ns. Andriyani Mustika, S.Kep dan TIM


Disusun Oleh :
Kelompok VI

1.      Nining Setyowati                   (SK.109.122)
2.      Norma Farisda                      (SK.109.123)
3.      Nur Maulidda                        (SK.109.136)
4.      Nur Renna Rahmawati        (SK.109.137)
5.      Pungkas                                 (SK.109.148)
6.      Purwanto                               (SK.109.149)
7.      Ratna Yulia Sari                   (SK.109.155)



PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDAL
TAHUN AKADEMIK 2011-2012



BAB I
PENDAHULUAN

Manajemen adalah proses bekerja melalui upaya orang lain untuk mencapaitujuan bersana. Manajemen keperawatan merupakan suatu proses pelaksanaan pelayanan keperawatan melalui upaya staf keperawatan untuk memberikan asuhankeperawatan, pengobatan dan rasa aman kepada pasien/keluarga/masyarakat(Gillies, 1982).
Proses manajemen meliputi kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan organisasimelalui pertemuan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian sumber-sumber daya manusia, fisik dan teknologi. Manajemen keperawatan merupakansuatu tugas khusus yang harus di laksanakan oleh pengelola keperawatan sehinggadapat memberikan pelayanan keperawatan yang efektif dan baik. Pengorganisasian merupakan fungsi manajemen yang perlu dilakukan setiapunit kerja. Pengorganisasian dilakukan untuk memudahkan pembagian tugas pada perawat sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki serta disesuaikan dengan kebutuhan klien.
Pengorganisasian tugas perawat ini disebut metode penugasan. Metode penugasan suatu gambaran/kerangka kerja yang mengatur pelaksanaankegiatan pelayanan kesehatan pada klien dengan menggunakan sumber-sumber informasi dan pendekatan pemecahan masalah serta memungkinkan perawat untuk  berkolaborasi dengan profesi kesehatan lain (Mayyer et all, 1990).






BAB II
PEMBAHASAN


A.    Definisi manajemen
·       Manajemen adalah suatu proses melakukan kegiatan atau usaha untuk mencapai tujuan organisasi melalui kerjasama dengan orang lain (Hersey dan Blanchard,)
·      Manajemen adalah pelaksanaan pekerjaan bersama orang lain (Harold konte dan Cyril O’Domel).
·       Manajemen adalah pencapaian tujuan yang telah ditentukan dengan menggunakan orang lain (G.R. Terry).
(Suarli, S, Bachtiar, Yayan. 2002.)

B.     Definisi manajemen keperawatan
·         Manajemen keperawatan secara singkat diartikan sebagai proses pelaksanaan pelayanan keperwatan melalui upaya staf keperwatan untuk memberikan asuhan keperawatan, pengobatan, dan rasa aman kepada pasien atau keluarga serta masyarakat (Gillis, 1985).
·         Manajemen keperawatan merupakan suatu proses yang dilaksanakan sesuai dengan pendekatan system terbuka. Oleh karena itu manajemen keperawtan terdiri atas beberap komponen oleh tiap-tiap komponen saling berinteraksi. Pada umumnya suatu system dicirikan oleh lima komponen, yaitu input, proses, output, control,dan mekanisme umpan balik (Agus kuntoro, 2010).
·         Memanajemeni adalah memperkenalkan dan merencanakan mengorganisasikan, memimpin, mengkoordinasikan dan mengendalikan. Memperkirakan dan merencanakan berarti mempertimbangkan masa depan dan menyusun rencana aktifitas. Mengorganisasikan berarti mengembangkan struktur ganda yaitu materi dan manusia, dari suatu usaha, memimpin berarti mengikat, menyatukan dan menyelaraskan segala bentuk aktifitas dan usaha. Mengendalikan berarti memperhatikan bahwa segala sesuatu yang terjadi sesuai dengan peraturan – peraturan yang telah di tetapkan dan tuntutan yang ada. (Swanbrug, Russe, C. 2000)

C.     Konsep
Secara garis besar konsep terbagi lagi menjadi beberapa pengertian diantaranya sebagai berikut :
1.      Konsep kualitas
Dalam konsep ini organisasi mementingkan kualiatas yang mampu memasuki pasar , dan dengan demikian harus mementingkan kepuasan pelangggan.
2.      Konsep Manajement
Dalam konsep manajemen bukan hanya manajer melainkan semua personil bertugas malaksanakan manajemen menggunakan fakta dan manajemen dengan siklus PDCA (plan do check act).
3.      Konsep proses
Dalam konsep proses siapapun yang akan melakukan tindak lanjut rangkaian tindakan, harus dianggap pelanggan yang harus dipuaskan. Pengendalian proses juga lebih diutamakan agar kesalahan kualitas dapat dihindari.
4.      Konsep Standardisasi
Dalam konsep ini semua melaksanankan pekerjaan berpangkal pada standar, seperti standar prosedur, kualitas dan kompetensi.
5.      Konsep homan respect
Dalam konsep ini manusia sepenuhnya perlu dihormati untuk menumbuhkan motivasi.
6.      Konsep quality assurance
Dalam konsep ini keikutsertaan pegawai tercermin dari kegiatan dalam gugus kendali mutu ( quality circle)
7.      Konsep Manajemen Jepang
Secara garis besar konsep ini dapat digunakan untuk memilih karakteristik calon karyawan, melatih karyawan baru, mengenalkan organisasi, merotasi karyawan diberbagai unit, mengambil keputusan secara kolektif ( kelompok kerja ), dan memotifasi karyawan untuk mencapai hasil maksimal.
(Suarli, S, Bachtiar, Yayan. 2002)

D.    Proses Manajemen
              Untuk melaksanakan proses manajemen diperlukan :
a.       Ketrampilan Teknik
                        Hal ini merupakan kemampuan untuk menggunakan pengetahuan, metode, tekhnik, dan peralatan yang diperlukan dalam menjalankan suatu tugas tertentu. Ketrampilan ini dapat diperoleh dari pengalaman, pendidikan dan pelatihan.
b.      Ketrampilan Hubungan antar Manusia
Ketrampilan ini merupakan kemampuan berkerjasama dengan otrang lain, termasik dalam hal ini memahami masalah motifasi dan penerapan kepemimpinan.
c.       Ketrampilan Konseptual
Ketrampilan ini merupakan kemampuan untuk memahami secara kompleks tentang organisasi yang ada. Selain itu juga bearti, kemampuan berfikir secar konseptual mengenai tujuan organisasi sebagai landasan untuk bertindak, bukan hanya memahami tujuan dari satu unit saja.
 (Suarli, S, Bachtiar, Yayan. 2002)


E.     Fungsi – Fungsi Manajemen
Secara ringkas fungsi manajemen adalah sebagai berikut :
a.       Perenacanaan (planning), perncanaan merupakan :
1.      Gambaran apa yang akan dicapai
2.      Persiapan pencapaian tujuan
3.      Rumusan suatu persoalan untuk dicapai
4.      Persiapan tindakan – tindakan
5.      Rumusan tujuan tidak harus tertulis dapat hanya dalam benak saja
6.      Tiap – tiap organisasi perlu perencanaan
b.      Pengorganisasian (organizing), merupakan pengaturan setelah rencana, mengatur dan menentukan apa tugas pekerjaannya, macam, jenis, unit kerja, alat – alat, keuangan dan fasilitas.
c.       Penggerak (actuating), menggerakkan orang – orang agar mau / suka bekerja. Ciptakan suasana bekerja bukan hanya karena perintah, tetapi harus dengan kesadaran sendiri, termotivasi secara interval
d.      Pengendalian / pengawasan (controling), merupakan fungsi pengawasan agar tujuan dapat tercapai sesuai dengan rencana, apakah orang – orangnya, cara dan waktunya tepat. Pengendalian juga berfungsi agar kesalahan dapat segera diperbaiki.
e.       Penilaian (evaluasi), merupakan proses pengukuran dan perbandingan hasil – hasil pekerjaan yang seharusnya dicapai. Hakekat penilaian merupakan fase tertentu setelah selesai kegiatan, sebelum, sebagai korektif dan pengobatan ditujukan pada fungsi organik administrasi dan manajemen.
(Suarli, S, Bachtiar, Yayan. 2002)

F.      Kerangka konsep manajemen keperawatan























 Lingkungan















 Manusia




 Perawat













Kesehatan
























Kerangka konsep  manajemen keperawatan adalah  manusia, perawat/keperawatan, kesehatan, dan lingkungan.
·         Manusia
Dalam manajemen partisipatif manusia adalah individu,keluarga/masyarakat yang diberikan pelayanan keperawatan melalui pelaksanan tugas keperawatan yang terorganisasi,terarah, terkoordinasi, dan terintegrasi dalam rentang kendali yg ditetapkan.
·         Perawat
Adalah tenaga keperawatan baik tingkat, manajerial puncak, menengah maupun bawah, dan para pelaksana  keperawatan yang berada dalam rentang komunikasi untuk bekerja sama  memberikan pelayanan  keperawatan sesuai dengan standar praktik keperawatan.
·         Kesehatan
Merupakan kisaran hasil keperawatan  yang berorientasi dalam beberapa dimensi  pelayanan terhadap individu, keluarga, dan masyarakat melalui upaya mencegah, mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan.
·         Lingkungan
Merupakan area kewenangan dan tanggung jawab keperawatan baik selama pasien berada dalam institusi pelayanan maupun persiapan menjelang pulang. (Chitty, 1997)

G.    Prinsip-Prinsip yang Mendasari Manajemen Keperawatan
a.   Manajemen keperawatan seyogyanya berlandaskan perencanaan karena melalui fungsi perencanaan, pimpinan dapat menurunkan resiko pengambilan keputusan, pemecahan masalah yang efektif dan terencana.
b.   Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif. Manajer keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun perencanaan yang terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya.
c. Manajemen keperawatan akan melibatkan pengambilan keputusan. Berbagai situasi maupun permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan kegiatan keperawatan memerlukan pengambilan keputusan di berbergai tingkat manajerial.
d.  Memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan fokus perhatian manajer perawat dengan mempertimbangkan apa yang pasien lihat, fikir, yakini dan ingini. Kepuasan pasien merupakan poin utama dari seluruh tujuan keperawatan.
e.   Manajemen keperawatan harus terorganisir. Pengorganisasian dilakukan sesuai dengan kebutuhan organisasi untuk mencapai tujuan.
f.     Pengarahan merupakan elemen kegiatan manajemen keperawatan yang meliputi proses pendelegasian, supervisi, koordinasi dan pengendalian pelaksanaan rencana yang telah diorganisasikan.
g.  Divisi keperawatan yang baik memotivasi karyawan untuk memperlihatkan penampilan kerja yang baik.
h.  Manajemen keperawatan menggunakan komunikasin yang efektif. Komunikasi yang efektif akan mengurangi kesalahpahaman dan memberikan persamaan pandangan, arah dan pengertian diantara pegawai.
i.    Pengembangan staf penting untuk dilaksanakan sebagai upaya persiapan perawat – perawat pelaksana menduduki posisi yang lebih tinggi atau upaya manajer untuk meningkatkan pengetahuan karyawan.
j.     Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan yang meliputi penilaian tentang pelaksanaan rencana yang telah dibuat, pemberian instruksi dan menetapkan prinsip – prinsip melalui penetapan standar, membandingkan penampilan dengan standar dan memperbaiki kekurangan. (Kuncoro, Agus, 2010)
           Berdasarkan prinsip – prinsip diatas maka para manajer dan administrator seyogyanya bekerja bersama – sama dalam perenacanaan dan pengorganisasian serta fungsi – fungsi manajemen lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

H.    Lingkup Manajemen Keperawatan
                 Mempertahankan kesehatan telah menjadi sebuah industri besar yang melibatkan berbagai aspek upaya kesehatan. Pelayanan kesehatan kemudian menjadi hak yang paling mendasar bagi semua orang dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai akan membutuhkan upaya perbaikan menyeluruh sistem yang ada. Pelayanan kesehatan yang memadai ditentukan sebagian besar oleh gambaran pelayanan keperawatan yang terdapat didalamnya.
                 Keperawatan merupakan disiplin praktek klinis. Manajer keperawatan yang efektif seyogyanya memahami hal ini dan memfasilitasi pekerjaan perawat pelaksana. Kegiatan perawat pelaksana meliputi:
a.       Menetapkan penggunakan proses keperawatan
b.      Melaksanakan intervensi keperawatan berdasarkan diagnosa
c.       Menerima akuntabilitas kegiatan keperawatan yang dilaksanakan oleh perawat
d.      Menerima akuntabilitas untuk hasil – hasil keperawatan
e.       Mengendalikan lingkungan praktek keperawatan
                        Seluruh pelaksanaan kegiatan ini senantiasa di inisiasi oleh para manajer keperawatan melalui partisipasi dalam proses manajemen keperawatan dengan melibatkan para perawat pelaksana. Berdasarkan gambaran diatas maka lingkup manajemen keperawatan terdiri dari:
a.       Manajemen operasional
  Pelayanan keperawatan di rumah sakit dikelola oleh bidang keperawatan yang terdiri dari tiga tingkatan manajerial, yaitu:
1.      Manajemen puncak
2.      Manajemen menengah
3.      Manajemen bawah
            Tidak setiap orang memiliki kedudukan dalam manajemen berhasil dalam kegiatannya. Ada beberapa faktor yang perlu dimiliki oleh orang – orang tersebut agar penatalaksanaannya berhasil. Faktor – faktor tersebut adalah
1.      Kemampuan menerapkan pengetahuan
2.      Ketrampilan kepemimpinan
3.      Kemampuan menjalankan peran sebagai pemimpin
4.      Kemampuan melaksanakan fungsi manajemen
b.      Manajemen asuhan keperawatan
                          Manajemen asuhan keperawatan merupakan suatu proses keperawatan yang menggunakan konsep – konsep manajemen didalamnya seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian atau evaluasi. ( Loveridge & Cumming, 1996 )





BAB III
PENUTUP

Manajemen adalah proses untuk melaksanakan pekerjaan melalui upaya orang lain. Menurut P. Siagian, manajemen berfungsi untuk melakukan semua kegiatan yang perlu dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan dalam batas – batas yang telah ditentukan pada tingkat administrasi. Sedangkan Liang Lie mengatakan bahwa manajemen adalah suatu ilmu dan seni perencanaan, pengarahan, pengorganisasian dan pengontrol dari benda dan manusia untuk mencapai tujuan yang ditentukan sebelumnya.
Sedangkan manajemen keperawatan adalah proses pelaksanaan pelayanan keperawatan melalui upaya staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan, pengobatan dan rasa aman kepada pasien, keluarga dan masyarakat. (Gillies, 1989). Kita ketahui disini bahwa manajemen keperawatan adalah suatu tugas khusus yang harus dilaksanakan oleh pengelola keperawatan untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan serta mengawasi sumber – sumber yang ada, baik sumber daya maupun dana sehingga dapat memberikan pelayanan keperawatan yang efektif baik kepada pasien, keluarga dan masyrakat.










DAFTAR PUSTAKA

Potter and Perry.  2005. Fundamental Keperawatan. Edisi 4.jakarta:EGC
Suarli, S, Bachtiar, Yayan. 2002. Manajemen Keperawatankatan Dengan Pendekatan Praktik. Jakarta : Erlangga.
Kuncoro, Agus. 2010. Buku Ajar Manajemen Keperawatan. Yogyakarta : Numed Swanburg Swanbrug, Russel C. 2000. Kepemimpinan & Manajemen Keperawatan. Jakarta. EGC